16 November 2014

Menapakkan Kaki di Puncak Lawu


   Sebuah cerita pengalaman memang cukup asik untuk diceritakan. Begitu juga saya kali ini akan menuliskan cerita pengalaman saya bersama teman-teman berjuang ke Puncak Lawu 3265 mdpl.

   Mendaki Gunung Lawu ini sebenarnya sudah kami rencanakan sejak satu bulan sebelum hari-H. Tepatnya pada tanggal 24 September 2014 kami sepakat untuk memanfaatkan libur akhir pekan yang cukup panjang untuk memperluas wawasan, mecari pengalaman, sekaligus mendekatkan diri pada alam.

  Pada hari-H tepatnya hari Jum'at, 24 Oktober 2014 saya berangkat ke sekolah langsung membawa carrier saya karena memang rencananya pulang sekolah setelah Sholat Jum'at kami semua berangkat. Benar-benar terlihat seperti tidak niat sekolah karena pada waktu itu saya hanya membawa satu buku tulis dan bahkan pensil atau bolpoin pun saya tidak membawa. Suasana kelas saya pun penuh dengan alat-alat pendakian, banyak carrier dan matras yang 'berserakan' di bagian belakang kelas.

Barang-barang di kelas kami

  Setelah sholat Jum'at kami semua berkumpul di sekolah menunggu teman-teman lain yang ingin ikut. Setelah semuanya berkumpul kami bernagkat menuju rumah teman kami Selando di daerah Semin.

  Kami semua total ada 16 orang. 10 diantaranya dari kelasku sendiri, yaitu aku, Selando, Evani, Amin, Fajar, Ariska, Helmi, Rama, Arin, Nida. Sementara 5 sisanya dari luar kelasku ada Wedhar, Hanifah, Melani, Ican ditambah satu dari luar sekolah yakni Mufid.

  Pukul 16.00 kami berangkat dari Semin menuju base camp jalur pendakian Cemoro Sewu. Kami menggunakan truk. Kami sempat berhenti di Masjid untuk menjalankan Sholat Maghrib dan dijama' dengan Sholat Isya'.

  Sekitar pukul 20.00 kami sampai di base camp Cemoro Sewu. Kami beristirahat sejenak sambil mempersiapkan diri.

  Setelah membayar uang Rp.10.000 kami berenambelas memasuki jalur pendakian. Kami berkumpul sejenak dan berdo'a bersama agar pendakian berjalan dengan lancar dan tanpa ada halangan suatu apapun.

  Kami mulai berjalan menyusuri jalur berbatu yang terus naik. Suasana yang cukup ramai karena memang kami mendaki pada malam satu suro. Banyak sekali pendaki lain yang juga mulai mendaki pada malam itu.

  Setelah beberapa kali break kami sampai di pos satu. Di sini kami tidak beristirahat karena memang kami berangkat sedikit telat dari rencana dan di pos itu pun sudah penuh oleh pendaki lain.

  Perjalanan dari pos 1 sampai pos 2 adalah perjalanan yang paling lama. Memakan waktu sekitar satu setengah jam dan berulang kali break kami akhirnya mencapai pos 2.

  Karena terjadi miss komunikasi di pos 2 ini saya sempat terpecah menjadi 2 rombongan. Karena instruksi awal adalah kami akan camp di pos 4, sementara karena sudah terlalu lelah teman-teman memutuskan untuk berhenti di pos 2 dan istirahat di sana.

  Saya dan ketiga teman saya yang waktu itu berada di depan rombongan tidak tahu akan adanya instruksi untuk berhenti di pos 2. Akhirnya kami tetap melanjutkan ke pos 3.

  Kami berempat (aku, Fajar, Helmi, dan Ariska) memutuskan untuk menunggu rombongan di pos 3 namun tak kunjung datang. Pada akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di pos 3. Kami waktu itu beristirahat pada pukul 02.30 pagi. Waktu itu kami tidur seadanya tanpa menggunakan matras dan sleeping bag.

  Kami hanya beristirahat sekitar 30 menit kemudian kami bersiap berangkat untuk summit attack. Pukul 03.10 kami berempat melanjutkan perjalanan ke pos 4 dan masih belum tahu menahu perihal rombongan kami yang berada di pos 2 (karena setahu kami rombongan yang lain itu justru sudah ada di depan).

  Sekitar pukul 05.00 kami sampai di pos 4. Pada saat itu matahari sudah hampir terbit dan kami memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan setelah mengambil beberapa foto.

Matahari mejelang terbit setelah pos 4
  Dalam perjalanan menuju Sendang Derajat kami berhasil mendapatkan sunrise. Ya, tentunya melihat matahari terbit dari atas awan merupakan sebuah impian yang sudah sejak lama saya impikan. Dan akhirnya kami berempat berhasil mendapatkannya pada waktu itu.

SUNRISE!!!

SUNRISE JUGA!!!

  Setelah menikmati sunrise kami melanjutkan perjalanan menuju Sendang Derajat. Kami beristirahat sejenak di sana dan menikmati 'Pop Mie Kriuk' buata Ariska. Setelah menikmati 'Pop Mie Kriuk' tersebut saatnya kami menuju puncak Hargo Dumilah.

Jalan setapak menuju Sendang Derajat
  Puncak tak terlalu jauh dari Sendang Derajat, perjalanan sekitar 30 menit dan akhirnya kami berhasil menapakkan kaki kami di Puncak Tertinggi Gunung Lawu, Hargo Dumilah yang memiliki ketinggian 3265 mdpl.

Tugu penanda puncak Gunung Lawu.

  Setelah beristirahat dan menikmati pemandangan di puncak, kami memutuskan untuk turun sekaligus mencari rombongan kami yang lain.

  Ditengah perjalanan turun tepatnya di pos 4 kami akhirnya bertemu dengan rombongan kami yang lain yang ternyata baru akan mendaki ke puncak. Akhirnya kami berempat memutuskan untuk kembali ikut ke atas bersama-sama, jadi pada waktu itu kami sudah 2 kali ke puncak.

  Kami beristirahat dan makan siang di Warung Mbok Dumilah di Sendang Derajat. Kami memesan soto. Soto yang luar biasa pedas itu akhirnya mengisi perut kami yang sudah kelaparan.

  Setelah itu kami melanjutkan 'muncak' lagi. Kali ini kami muncak tanpa carrier. Kami tinggal semuanya di Sendang Derajat. Karena cukup melelahkan tentunya membawa carrier selama berjam-jam.

  Berhasil sampai kepuncak kami beristirahat dan mengambil foto bersama sambil menikmati indahnya alam ciptaa Sang Kuasa. Sungguh keindahan yang tidak mungkin manusia ciptakan.

Minus Bang Wedhar sama Bang Ican

  Kami memutuskan untuk turun. Pada saat turun rombongan terbagi menjadi 3. Dan saya kali ini ikut rombongan yang paling akhir. Dan sampai di base camp kembali sekitar pukul 21.30. Kami beristirahat sambil mengembalikan tenaga lalu masuk ke truk dan kembali ke Gunungkidul.

  Perjalanan yang cukup singkat untuk pulangnya karena hanya memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Semin. Kami berberes lalu bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada juga yang memutuskan untuk menginap di Rumah Selando karena sudah terlalu larut malam.

 Perjalanan yang sempat menemui kendala dengan terpisahnya kami berempat tersebut ada hikmahnya. Yaitu kami menjadi mengerti pentingnya menjaga komunikasi. Dan berkat kejadian itu kami berempat berhasil mendapatkan sunrise. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan tentunya.

0 komentar:

Posting Komentar